HKI: Fondasi Perjuangan Industri Kreatif Indonesia dalam MEA 2015

Juara Favorit Lomba Tulis Nasional 2015: Using Creative Industries as Indonesian Economic Power to Face ASEAN Economic Community 2015

 

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan dimulai pada akhir tahun 2015 telah diprediksi akan menimbulkan berbagai pro dan kontra, khususnya dari negara-negara yang belum memiliki kesiapan dalam menghadapi proses integrasi tersebut. Indonesia, sebagai salah satu peserta Komunitas ASEAN, pun masih meragukan kesiapan dirinya dalam menghadapi MEA 2015 tersebut. Bukan perkara mudah untuk berintegrasi yang dimulai dalam bidang ekonomi meskipun dalam satu dekade terakhir Indonesia mampu keluar dari krisis moneter 1998 dan mendorong pemulihan perekonomiannya. Hal tersebut tidak terlepas dari keberadaan MEA yang dapat diibaratkan sebagai dua mata uang bagi Indonesia. MEA bisa menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk mempromosikan kualitas dan kuantitas produk dan jasa dalam skala yang lebih luas, tetapi bisa menjadi batu sandungan selama Indonesia tidak memanfaatkan kesempatan ini dengan bijaksana. Continue reading HKI: Fondasi Perjuangan Industri Kreatif Indonesia dalam MEA 2015

How expensive is tolerance? – Diversity in Unity

Diversity in unity | Home

Ir. Soekarno, the founding father of Indonesia, opposed the first concept of Five Principles (Pancasila) in Jakarta Charter in The Investigating Committee for Preparatory Work for Indonesian Independence’s meeting. Soekarno believed Indonesia should not stand of one race, one religion, or one ethnic, but the concept of diversity should stand from many races, religions, and ethnics that can be united as a nation.

Soekarno said, “Not only Indonesian people believe in God, but every Indonesian people should believe in their God. People should believe in god culturally, without religious egoism. Let us run the civilized religion, mutual respect. Divinity is in noble character.” Soekarno fought the divinity concept that Indonesia is majority of Moslem people, so the divinity concept should be based on Islamic law. Soekarno said the tolerance in Indonesia should be established, Five Principles is the basic ideology to create it. Although Soekarno got many struggles from Islamic figures in this meeting, Soekarno had still stood in his conviction. Continue reading How expensive is tolerance? – Diversity in Unity

ISIS: Sebuah Analisis Kajian Keamanan Dalam Perspektif Konstruktivisme

Di pertengahan tahun 2014, dunia digemparkan dengan eksistensi sebuah organisasi yang menggunakan jalur kekerasan untuk mencapai kepentingannya membentuk negara Islam, Islamic State of Iraq and Syria[1] (ISIS). Organisasi ini merupakan pecahan dari Al-Qaeda, sebuah kelompok terorisme yang terkenal setelah Peristiwa 11 September[2], yang keberadaannya tidak diakui di Irak dan Suriah karena dalam mengimplementasikan nilai-nilai Islam yang dianutnya selalu menggunakan jalur kekerasan dan tidak segan-segan untuk membunuh.[3] Di bawah kepemimpinan Abu Bakar al-Baghdadi, ISIS sempat bergabung dengan Front Al Nusra yang merupakan afiliasi Al-Qaeda di Suriah. Namun, ISIS yang bertentangan dengan misi yang ingin dicapai oleh Front Al Nusra membuat Abu Kamal, pemimpin Front Al Nusra, melakukan serangan kepada ISIS.[4] ISIS memiliki cita-cita untuk membentuk negara Islam murni dengan melakukan berbagai penaklukan yang mana telah dilakukan di Irak dan Suriah.[5] Continue reading ISIS: Sebuah Analisis Kajian Keamanan Dalam Perspektif Konstruktivisme

ASEAN Plus Three: Cikal Bakal Integrasi Asia Timur dan Mitra Perdagangan Amerika Serikat

ASEAN Plus Three (APT) berdiri setelah terjadinya krisis ekonomi Asia pada tahun 1997 dan 1998. Krisis yang terjadi tersebut memunculkan sebuah inisiasi baru untuk membuat sebuah pertemuan regional dalam level pemerintahan dengan melibatkan China, Jepang, dan Korea Selatan.[1]

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APT pertama kali diselenggarakan pada bulan Desember 1997 di Kuala Lumpur pada saat kawasan Asia sedang dilanda krisis ekonomi.[2] Ada tiga hal keuntungan dari pembentukan APT yaitu kerjasama finansial dan moneter yang lebih besar di Asia Timur yang segaris dengan kerjasama ekonomi yang lebih besar pada umumnya, inisiasi pembentukan APT Free Trade Area (FTA) membuat Amerika Serikat untuk fokus memberikan perhatian lebih dalam kerjasama ekonomi di Asia Tenggara, dan dengan integrasi yang lebih besar, setiap negara akan membutuhkan tempat bersosialisasi berdasarkan kelebihan yang bertautan dengan sendirinya.[3]

 

Sejauh Apa Pengaruh APT di Asia Pasifik?

Pembentukan APT menjadi sebuah pengaruh awal bagi pembentukan forum-forum yang lain seperti ASEAN Regional Forum (ARF), East Asia Summit (EAS) pada tahun 2005, dan China-ASEAN Special Relationship.[4] Ini membuat sebuah integrasi baru Asia, terutama di kawasan Asia Timur yang mana belum ada pembentukan organisasi regional untuk kawasan tersebut. Faktor yang mengakibatkan belum terbentuknya organisasi regional di Asia Timur karena adanya permasalahan antara China-Jepang, China-Korea Selatan, dan Jepang-Korea Selatan yang belum terselesaikan, kehadiran AS melalui pangkalan militernya di Jepang dan Korea Selatan[5], serta China dan Jepang yang sama-sama berkeinginan sebagai pemimpin di Asia Timur[6].

Selain itu, China sebagai sponsor terhadap pembentukan APT menjadi bukti perwujudan integrasi baru di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur pasca krisis ekonomi 1997-1998 di mana APEC yang tidak dapat membantu dan menyebabkan trauma bagi kawasan-kawasan yang terkena efeknya.[7] Penulis menganalisis dengan pembentukan APT di tangannya, China telah menunjukkan bagaimana Asia Tenggara dan Asia Timur pun dapat berdiri sebuah cikal bakal organisasi regional tanpa harus melibatkan AS. Di sisi lain, ini adalah kelemahan bagi cikal bakal organisasi regional ini juga karena adalah hal yang hampir mustahil organisasi regional yang masih berada dalam kawasan Asia Pasifik tidak meninjau sejauh apa pengaruh AS bagi kawasan tersebut.

Jepang dan China akan menjadi pusat perhatian perekonomian dunia setelah pembentukan APT. Tidak dapat dipungkiri lagi dominasi perekonomian dunia saat ini dipegang oleh China dan Jepang. Perhitungan Gross Domestic Product (GDP) yang dilakukan oleh World Bank, China dan Jepang menempati posisi kedua dan ketiga pada perhitungan yang dilakukan tahun 2011.[8] Ini membuktikan bagaimana China dan Jepang bisa menjadi kekuatan yang baru dalam perekonomian dunia. Apabila ini terbukti, perekonomian Asia Pasifik pun adalah bukan hal yang mustahil apabila dikendalikan oleh China dan Jepang. Yang terjadi saat ini adalah bagaimana AS sebagai hegemoni yang kuat untuk mempertahankan dirinya sebagai pemegang GDP nomor satu dengan bayang-bayang China dan Jepang.

Dengan pembentukan APT, ASEAN pun bisa merasa diperhitungkan. APT menjadi titik awal bagi ASEAN pasca krisis moneter 1997-1998 untuk membuktikan bagaimana negara-negara tersebut dapat memulihkan diri. Melalui beberapa program yang dijalankan dari APT, ASEAN semakin menunjukkan dirinya sebagai sebuah integritas regional yang wajib diperhitungkan. Integrasi ekonomi yang sedang diupayakan oleh APT akan semakin membantu ASEAN sebagai sebuah organisasi regional yang tidak dapat dipandang sebelah mata di Asia Pasifik.

APT juga menjadi bukti kekuatan baru untuk China dan ASEAN di mana kerjasama antara keduanya semakin ditingkatkan. Ini dibuktikan dengan pembentukan China-ASEAN Special Relationship dan FTA yang telah berjalan. Namun, keberadaan APT di Asia Pasifik juga dapat melemahkan negara-negara anggota akibat permasalahan Laut China Selatan dan faktor sejarah antara Jepang dan China yang masih memanas.[9] Apabila ini tidak dapat dikendalikan, pengaruh APT di Asia Pasifik tidak akan memberikan sebuah gebrakan baru, terutama untuk China dan Jepang.

 

Amerika Serikat: Kawan Atau Lawan?

Hingga saat ini hegemoni Asia Pasifik masih didominasi oleh Amerika Serikat. Ini juga yang membuat Amerika Serikat mendirikan Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) agar menunjukkan pengaruh besar Amerika Serikat terhadap ekonomi dan militer di kawasan tersebut. Krisis 1997-1998 menjadi bukti hegemoni Amerika Serikat yang paling kuat karena kegagalan APEC untuk membantu menyelesaikan masalah krisis ekonomi dan dominasi International Monetary Fund (IMF) yang lebih cenderung terlihat.[10] Dari hal ini, negara-negara yang terkena efek domino krisis ekonomi memiliki trauma dan ini menimbulkan spekulasi bahwa APEC dibentuk semata-mata hanya untuk kepentingan Amerika Serikat saja.

Pasca kepemimpinan Barrack Obama, Amerika Serikat terpaksa memberikan fokus terutama dalam perekonomian ke Asia.[11] Ini dikarenakan pada masa pemerintahan George H. W. Bush tidak memiliki ketertarikan terhadap Asia.[12] Perkembangan dan kemajuan ekonomi yang dimiliki ASEAN saat ini membuat Amerika Serikat mau tidak mau harus juga mengarahkan ke Asia Tenggara. Di sisi lain, China yang terlebih dahulu sudah menjalin hubungan baik, khususnya melalui APT menjadikan Amerika Serikat demi memperkuat hegemoninya di Asia Pasifik.

Perhatian Amerika Serikat terhadap China dan Jepang pun tidak boleh lenyap begitu saja. Sebagai negara kedua dan ketiga yang memiliki GDP terbesar di dunia, China dan Jepang dimungkinkan menjadi pesaing terkuat yang diprediksi akan menggantikan Amerika Serikat sebagai negara adidaya. Krisis perekonomian yang dialami oleh Amerika Serikat saat ini menjadi sebuah keuntungan bagi China dan Jepang untuk membuka persaingan ekonomi dunia. Inilah yang menyebabkan Amerika Serikat harus memperhatikan APT dari sisi China dan Jepang pula.

Permasalahan Laut China Selatan juga menjadi hal yang serius untuk dicermati oleh Amerika Serikat. Sebagai salah satu pengguna terbesar, Amerika Serikat memiliki pengaruh yang dominan untuk menekan keberadaan China yang ingin mendominasi Laut China Selatan dari negara-negara ASEAN. Amerika Serikat hadir sebagai kekuatan penekan China agar China tidak bertindak otoriter pada kawasan tersebut.[13] Laut China Selatan adalah objek vital bagi kawasan Asia Pasifik karena laut ini digunakan sebagai lalu lintas perdagangan dunia.[14]

Melihat kondisi yang dihadapi dalam keberadaan ASEAN, China, dan Jepang dalam APT, Amerika Serikat harus dapat menjadi mitra yang baik bagi negara-negara yang tergabung tersebut. Dengan menjadi ‘teman’ dari negara-negara tersebut, Amerika Serikat akan membuka hubungan yang seluas-luasnya dan tetap dapat memberikan pengaruh yang signifikan sebagai hegemoni di Asia Pasifik.

 

Kesimpulan

Pembentukan APT merupakan sebuah inisiasi untuk integrasi kawasan di Asia Timur dengan China sebagai sponsor utama. Selain itu, APT juga berfungsi sebagai ‘penunjuk’ bahwa APEC telah gagal untuk mengatasi krisis ekonomi Asia pada tahun 1997-1998. APT memberikan pengaruh yang dominan terhadap pembentukan forum-forum yang lebih luas lagi dan membuktikan bagaimana Amerika Serikat tidak harus terlibat di dalamnya. Namun, ini menjadi sebuah kekurangan juga karena adanya kekuatan Amerika Serikat yang masih dominan di Asia Pasifik. Pembentukan APT juga memberikan pengaruh lain terhadap ASEAN sebagai sebuah organisasi regional yang patut diperhitungkan setelah Uni Eropa.

Amerika Serikat tidak bisa melihat pembentukan APT hanya sebelah mata. Kehadiran China dan Jepang yang saat ini sebagai pemegang posisi kedua dan ketiga GDP terbesar di dunia menjadikan Amerika Serikat harus merasa terancam. Selain itu, ASEAN adalah kawasan yang juga harus menjadi fokus Amerika Serikat. Adalah hal yang baik apabila Amerika Serikat menjadikan negara-negara yang tergabung dalam APT sebagai mitra perdagangan, bukan sebagai pesaing dengan melihat keadaan domestik Amerika Serikat saat ini.

[1] Qing, The Future of ASEAN+3 FTA, hal. 3

[2] Direktorat Jendral Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, 2011, ASEAN Selayang Pandang, Jakarta, hal. 196.

[3] Qing, op. cit., hal. 7

[4] Friedrichs, 2012, ‘East Asian Regional Security’, Asian Survey, vol. 52, no. 4, hal. 756-757

[5] Ibid.

[6] The Jakarta Globe, 2012, Leadership Change in East Asia Offer New Start, 21 Desember, diakses pada 4 April 2013, <http://www.thejakartaglobe.com/international/leadership-change-in-east-asia-offers-new-start/562992>

[7] Friedrichs, op. cit., hal. 758.

[8] World Bank, GDP (current US$), diakses pada 6 April 2013, <http://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.MKTP.CD/countries/1W-US?display=default>

[9] Friedrichs, op. cit., hal. 759.

[10] Stubbs, 2002, ‘ASEAN Plus Three: Emerging East Asian Regionalism?’, Asian Survey, vol. 42, no. 3, hal. 448-449.

[11] Clinton, 2010, Remarks on Regional Architecture in Asia: Principles and Priorities, Honolulu, Imin Center-Jefferson Hall, diakses pada 6 April 2013, <http://www.state.gov/secretary/rm/2010/01/135090.htm>

[12] Achaarya, 2006, ‘Betwixt balance and community: America, ASEAN, and the security of Southeast Asia’, International Relations of the Asia-Pasific, 2006, hal. 50.

[13] Amalia, 2011, ‘Kekuatan Militer Cina dalam Keamanan Regional di Kawasan Asia Pasifik’, Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional, vol. 7, no. 1, hal. 59-60.

[14] McDowell, 2011, ‘A look at the top issues at Asian security meeting’, The Guardian, diakses pada 6 April 2013, < http://www.guardian.co.uk/world/feedarticle/9755825>